Belajar Memasak Untuk Masa Depan

Sekarang memasak tidak cuma aktivitas sehari-hari kaum ibu. Seni memasak menarik atensi bermacam kalangan, dari buah hati-buah hati sampai orang dewasa, tidak peduli perempuan atau laki-laki. Apalagi bermacam tayangan di layar kaca kerap menampakkan kiprah ”chef” perempuan dan laki-laki. Dunia masak memasak menjadi lebih glamor dan bidang masakan malahan kian pesat berkembang. iah Ayu Warisista, mahasiswa Jurusan Perhotelan, Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Jakarta, mengatakan, semenjak permulaan ia memilih fokus di bidang tata boga. Ia malahan pernah mencicipi magang dan mengamati seketika bagaimana keadaan dapur Hotel Sultan, Jakarta. ”Ketika aku magang, asyik sekali.

Baca : Baking course jakarta

Aku memperoleh banyak ilmu dari para chef. Kecuali itu, aku juga banyak memperoleh resep baru,” ujar Ayu yang gembira menekuni pastry. Ayu yakin dengan opsinya mengoptimalkan diri di bidang masak memasak. Dia yakin dapat meraih masa depan cemerlang. Dina Oktaviani, mahasiswa semester IV Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta, mengevaluasi, kesukaan memasak itu menyenangkan. Memadukan bermacam bahan guna menjadikan hidangan benar-benar menuntut kreativitas seseorang. ”Aku belajar memasak dari Ibu, terbiasa mengamati Ibu membikin kuliner, membikin aku berminat dan alhasil dapat memasak,” kata Dina. Melainkan, ia ogah berkarier di bidang memasak sebab lebih berminat berprofesi di bidang lain. Itu pula Amelia, mahasiswa semester IV Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta Timur. Ia mengagumi pekerjaan chef yang kapabel membikin hidangan menjadi unik dan istimewa. ”Chef itu hebat, kapabel mengetahui bermacam macam dan nama bahan makanan, serta memadukannya sampai menarik.

Ia juga dapat memasak bermacam makanan dari sejumlah tempat dan negara,” kata Amelia. Sama seperti Dina, Amelia tak berminat menjadi chef padahal tahu pekerjaan ini menjanjikan. Walau dapat memasak, Amelia ogah menekuni bidang masakan. Ia lebih menyenangi profesi administrasi. Pandangan serupa mengemuka dari Andriani Febriyanti, mahasiswa semester VI Jurusan Administrasi Niaga, STIA YAPPAN, Pondok Gede, Bekasi. Bagi ia, berkarier di bidang masakan bukan alternatif dalam keluarganya. Melainkan, ia gembira memasak dan kapabel memasak tanpa resep. ”Di keluarga aku, tak ada yang memilih karier sebagai chef atau membuka resto. Semuanya berprofesi di bidang administrasi.

Baca juga : Cooking course jakarta

Memasak bagi aku lebih untuk kesenangan pribadi, bukan pekerjaan.” Peminat kursus Untuk menampung atensi mereka yang gembira memasak, banyak daerah kursus bermunculan. Kecil-buah hati malahan boleh belajar memasak. Bagi mereka, biasanya kursus berlangsung pada akhir minggu atau ketika tamasya. Kecuali itu, kursus malahan terbuka bagi remaja, mahasiswa, ibu rumah tangga sampai mereka yang telah berprofesi di bidang lain. Bagi mereka, kursus memasak berkhasiat untuk kesenangan pribadi dan demi kesenangan orang lain, seperti keluarga dan teman. Apalagi di daerah kursus mereka bisa memilih kelas pantas atensi, dari yang paling dasar sampai kelas master. Ditambah lagi majalah, tabloid, dan buku resep kuliner apa malahan bertebaran di warung buku, mulai yang seharga Rp 5.000 sampai ratusan ribu rupiah. Segala buku itu relatif menarik atensi orang sebab dilengkapi dengan gambar dan langkah pembuatan kuliner.

Semakin komplit lagi sebab perlengkapan memasak malahan betul-betul bervariasi. Alami mempermudah kita jikalau berkeinginan memasak sesuatu yang khas. Fatmah Bahalwan, pendiri kelompok sosial memasak Baru-baru Cooking Club (NCC), menerangkan, acara persaingan memasak, seperti Masterchef, membikin atensi orang belajar memasak bertambah banyak. Mereka melihat aktivitas memasak sebagai hal yang menyenangkan dan tengah populer. ”Lazimnya ini peserta kursus tak cuma ibu-ibu, namun juga mahasiswa dan siswa SMA. Ia peserta berusia muda menyenangi belajar bikin cake sekalian menghiasnya,” ujar Fatmah. NCC menyelenggarakan kursus memasak dengan alternatif bermacam ragam menu kuliner atau cake yang berbeda tiap-tiap hari. Satu kelas terdiri dari 10 hingga 25 peserta. ”Sekitar 20 persen peserta ialah generasi muda.

Terkait : team building jakarta

Mungkin sebab banyak acara masak memasak di layar kaca sehingga buah hati muda tak gengsi untuk belajar memasak,” ujarnya. Mengenai alternatif pengajaran formal atau informal untuk menekuni masak-memasak, berdasarkan Fatmah, tergantung dari tujuan masing-masing. Memasak dapat menjadi hobi seseorang, namun bisa pula menjadi pekerjaan. ”Peminat kursus singkat biasanya mereka yang sebelumnya memiliki pekerjaan seperti dokter, insinyur, guru atau pegawai swasta yang kemudian berkeinginan dapat memasak. Sementara alternatif pengajaran formal bagi mereka yang berkeinginan mempunyai keahlian secara profesional. Ia tidak sekedar dapat memasak, namun mengerti nutrisi dan kandungan tiap-tiap bahan kuliner,” katanya. Fatmah mengatakan, kursus bisa menolong seseorang meningkatkan kesanggupannya memasak bermacam ragam menu.

Memperhatikan, untuk membikin cake dengan dekorasi menarik, peserta dapat mencontoh kursus secara berjenjang, mulai kelas cake dasar hingga menghias kudapan manis. Apabila perkembangan dunia masakan yang pesat, Fatmah yakin pekerjaan chef bisa menjanjikan masa depan yang lebih bagus. tak menemukan lapangan kerja yang pantas, keahlian memasak bisa kita pakai untuk membuka usaha yang relatif tidak habis diminati konsumen dari bermacam kalangan.

 

 

Baca yang lainnya : Kursus kue