Kantor Virtual Yang Diminati di Jakarta

Sebanyak 50 persen pekerja profesional Jakarta memilih untuk mencari profesi yang mempunyai kantor “virtual” atau dekat dengan daerah tinggalnya, sebab tak bendung dengan kemacetan yang melanda di jalan setiap hari. – Virtual Office Jakarta Murah

“Kemacetan lalu lintas yang parah di Jakarta bersama perjalanan pulang-pergi yang panjang dari rumah ke kantor, membikin para pekerja di Indonesia lebih beratensi untuk berprofesi pada perusahaan yang letaknya fleksibel,” kata Vice President Regus William Willems untuk kawasan Asia Tenggara, Australia dan New Zealand, saat merilis hasil surveinya di Jakarta, Selasa.

Regus yang yakni perusahaan internasional penyedia daerah kerja yang inovatif mengerjakan survei kepada sekitar sejuta pekerja di Jakarta pertengahan tahun lalu dan juga mendapati 64 persen pekerja juga mengharapkan untuk mencari profesi baru yang mempunyai tawaran gaji serta dana pensiun yang lebih menarik.

Sementara itu, stres yang disebabkan oleh lamanya waktu untuk mencapai jarak pulang-pergi rumah dan kantor sebab kemacetan yakni penyebab utama pekerja yang mau mencari profesi baru yang mempunyai kantor fleksibel atau virtual, di mana profesi dapat diatasi dari rumah.

William Willems mengatakan para pekerja profesional itu akan bertanding untuk bisa berprofesi di perusahaan yang cakap menyediakan fasilitas kerja pas serta memenuhi keperluan karyawan akan kenyamanan kerja.

“Salah satu keperluan utama mereka yakni untuk bisa pulang-pergi kerja secara nyaman. Stres yang dimunculkan oleh situasi daerah kerja yang tak layak dengan keperluan serta jarak pulang-pergi yang jauh bisa menyebabkan para pekerja mau mencari profesi baru,” katanya.

Dari survei yang dilaksanakan ditemukan 20 persen pekerja Jakarta setiap hari mencapai jarak pulang-pergi ke daerah kerja lebih dari satu jam, rata-rata mencapai perjalanan selama 90 menit, meski jarak perjalanan mereka patut bisa dicapai dalam rentang waktu 25 menit saja.

Hal itu antara lain sebab 64 persen pekerja yang disurvei mengaplikasikan kendaraan pribadi yang menjadi langganan terjebak kemacetan Jakarta yang diperparah dengan pembangunan infrastruktur jalan yang sungguh-sungguh tak memadai, tak dapat meniru pertumbuhan jumlah kendaraan.

“Meski problem kemacetan lalu lintas terjadi di hampir seluruh negara berkembang, tapi di Indonesia pertumbuhan pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan cuma kurang dari satu persen antara 2008 sampai 2009,” kata Willems.

Oleh sebab itu, tak heran kalau para pekerja menghabiskan jumlah yang cukup besar dari gaji mereka untuk tarif perjalanan. “Rata-rata para pekerja menghabiskan 10 persen atau lebih dari gaji mereka untuk tarif perjalanan kerja,” kata Willems.

Kantor virtual di mana pekerja terkait dengan atasan dan rekan kerja mereka mengaplikasikan saluran komunikasi contohnya telepon atau dunia maya kemudian disebut sebagai salah satu solusi untuk memecahkan situasi hal yang demikian, di mana hal itu juga sekalian bisa menjadi efisiensi daerah dan tarif bagi perusahaan tempatnya berprofesi.