Bagaimana Program “Full Day School”?

IB School Jakarta – Tahun lalu Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan sebuah kebijakan yang sempat mengundang pro dan kontra, adalah full day school. Kebijakan hal yang demikian dialamatkan untuk menunjang perwujudan pas pengajaran adalah terpenuhinya pengetahuan awam dan terbangunnya karakter. Tahun berganti, bagaimana kelanjutan kebijakan hal yang demikian? Kebijakan hal yang demikian sekarang telah tak lagi diketahui dengan istilah full day school yang dianggap menyesatkan.

Kebijakan hal yang demikian kini lebih diketahui dengan nama Pengajaran Penguatan Karakter (PPK). Layak dengan agenda Menteri Pengajaran dan Kebudayaan Muhadjir Effendy di akhir tahun lalu, Kemendikbud sudah memilih 500 lebih sekolah di semua Indonesia sebagai percontohan program PPK. “Tepatnya ada 542 sekolah yang telah jadi percontohan. Program percontohan PPK itu di tahap permulaan wujudnya pelatihan kepada kepala sekolah-kepala sekolah dari sekolah terpilih,” kata Staf Pakar Menteri Pengajaran dan Kebudayaan bidang Pembangunan Karakter, Arie Budiman dikala dihubungi.

Sekolah-sekolah yang menjadi percontohan di 34 provinsi hal yang demikian dipilih menurut sebagian kriteria. Pertama, sekolah mesti telah memakai kurikulum 2013. Kedua, menurut lokasi. tiap provinsi mesti terwakili. Kecuali sekolah yang dipilih Kemendikbud, jumlah 542 sekolah hal yang demikian telah termasuk sekolah-sekolah yang secara sukarela menawarkan diri untuk menjadi sekolah percontohan. Sekolah yang dipilih tak cuma yang terletak di perkotaan. Justru, berdasarkan Arie, sekolah-sekolah yang ada di tempat terpencil diberikan perhatian khusus atau diprioritaskan.

“Ada sebagian modul pelatihan yang kami berikan terhadap kepala sekolah. Salah satunya yakni bagaimana mereka bisa menghasilkan keadaan sekolah yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa,” sebut pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pengajaran DKI Jakarta hal yang demikian.

Pada proses program PPK nantinya siswa dikasih penambahan jam sekolah. Pembelajaran formal dilaksanakan selama separuh hari dan sisanya diisi oleh kesibukan yang menunjang pengembangan karakter. Dapat via ekstrakurikuler atau kokurikuler. “Untuk mata pelajarannya tak ada yang baru.

Cuma tiap mata pembelajaran yang ada di sekolah mesti diperkuat dengan praktik-praktik pembentukkan karakter. Pembentukkan karakter ini sifatnya build-in di dalam tiap mata pembelajaran, ekstrakurikuler, dan kesibukan kokurikuler,” kata Arie. Sekolah juga diinginkan bisa berkolaborasi dengan pihak-pihak lain seperti museum, balai-balai kebiasaan, kantor pemerintah, dan LSM. Dapat dengan berkolaborasi mengadakan kunjungan untuk study tour atau mendatangkan pihak-pihak hal yang demikian untuk berbagi pengetahuan di sekolah. Sesudah 542 sekolah menjadi percontohan di akhir 2016, tahun ini Kemendikbud mentargetkan 9.800 sekolah menjadi percontohan program PPK.

Pada proses program PPK nantinya siswa dikasih penambahan jam sekolah. Pembelajaran formal dilaksanakan selama separuh hari dan sisanya diisi oleh kesibukan yang menunjang pengembangan karakter. Dapat via ekstrakurikuler atau kokurikuler. “Untuk mata pelajarannya tak ada yang baru. Cuma tiap mata pembelajaran yang ada di sekolah mesti diperkuat dengan praktik-praktik pembentukkan karakter.

Pembentukkan karakter ini sifatnya build-in di dalam tiap mata pembelajaran, ekstrakurikuler, dan kesibukan kokurikuler,” kata Arie. Sekolah juga diinginkan bisa berkolaborasi dengan pihak-pihak lain seperti museum, balai-balai kebiasaan, kantor pemerintah, dan LSM. Dapat dengan berkolaborasi mengadakan kunjungan untuk study tour atau mendatangkan pihak-pihak hal yang demikian untuk berbagi pengetahuan di sekolah. Sesudah 542 sekolah menjadi percontohan di akhir 2016, tahun ini Kemendikbud mentargetkan 9.800 sekolah menjadi percontohan program PPK.